Nostalgia sambil menggali Kearifan Lokal

Posted by Webmaster Sekolah Budaya

JUDUL

Dolanan Arek Gresik

PENULIS

Siswa SMAN 1 Gresik

PENERBIT

SMAN 1 Gresik, Radar Gresik, dan PT. Smelting

CETAKAN

I, Februari 2017

TEBAL

200 halaman

----------------------------------------------------------

Resensi Buku

 

Bernostalgia sambil Menggali Kearifan Lokal

 

Gresik merupakan salah satu kota tua di pesisir utara pulau Jawa. Pada masa perdagangan kuno Gresik menjadi Bandar transito yang amat disukai para pedagang dari mancanegara. Orang Cina menyebutnya dengan T`sin T`sun yang berarti Gresik kota baru. Bangsa Portugis menyebutnya Agace. Dan orang Belanda menyebutnya dengan istilah Grissee.

            Sambil menunggu angin berbalik arah, para pedagang kemudian menetap di daerah sekitar pelabuhan. Mereka membentuk perkampungan dan berinteraksi dengan penduduk setempat. Kampung-kampung dulu yang pernah dijadikan transit para pedagang asing, seperti Kampung Kemasan, Kemuteran, Arab, Pecinan, dan Lumpur masih terjaga hingga sekarang. Di tempat itulah dolanan menjadi tumbuh dan berkembang.

            Dolanan ini tidak dengan serta merta muncul begitu saja. Tentu ada faktor yang melatarbelakanginya. Tidak hanya itu, ada falsafah serta pesan moral di balik dolanan tersebut. Misalnya dolanan Betengan. Dolanan ini dimainkan sejak zaman Sunan Giri hingga saat ini. Benteng artinya pertahanan. Dolanan ini membutuhkan dua benteng yang jumlahnya genap. Ada pesan moral di balik permainan ini. Benteng diibaratkan tempat menimba ilmu. Jika salah satu dari anggota keluar, berarti berpotensi kehilangan ‘pegangan’. Oleh karena itu anggota yang lain mengejar dengan maksud mengingatkan agar kembali ke ‘benteng’ (baca:sekolah/pesantren). Dari dolanan ini kita diajari agar tetap berpegang teguh pada pendirian. Memiliki pegangan hidup yang kokoh (benteng) agar tidak terombang ambing oleh isu-isu yang kurang bisa dipertanggungjawabkan serta tidak mudah terpengaruh oleh pendapat pihak lain (hal-5-7)

Buku ini bercerita tentang dolanan arek Gresik. Ditulis pelajar SMAN 1 Gresik. Sehingga mereka tidak menemukan kendala yang berarti ketika menuliskan kembali dolanan yang mereka mainkan sendiri sehari hari. Ada sekitar 69 dolanan yang disajikan dalam bahasa yang egaliter. Dilengkapi dengan gambar-gambar yang menarik sehingga buku ini menjadi tidak membosankan untuk dibaca.

Penyusunan buku ini bukan dimaksudkan membangun semangat kedaerahan. Akan tetapi lebih pada sebagai sebagai sebuah upaya menyadarkan kembali masyarakat bahwa budaya kota Gresik memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perkembangan kebudayaan Nasional. Di samping itu kehadiran buku ini juga dapat dijadikan sarana mengomparasikan perkembangan budaya di daerah lain. Sehingga dapat menggelorakan semangat membangun daerah agar tidak tertinggal dengan wilayah lain.

            Buku ini merupkan salah satu wujud apresiasi siswa terhadap leluhurnya. Melalui buku ini pembaca akan dibawa pada suatu tempat yang jauh waktunya. Di sana mereka akan bertemu dan melakukan komunikasi imajiner dengan para sufi, orang bijak, maupun filsuf melalui dolanan yang mereka ciptakan. Ada bluron, dolanan yang mengajarkan kerja keras. Ada juga jumpritan, yang mengajarkan keimanan. Dan ada pula seladuran, permainan yang mengajarkan demokrasi.

            Buku ini dapat menjadi bacaan alternatif bagi putra putri kita. Karena mengajak para pembaca, utamanya para orang tua untuk memahami pola didik yang tepat bagi buah hatinya. Dengan konten yang dolanan edukatif, karya anak anak Smansa -- sebutan SMAN 1 Gresik—mengajak pembaca mengajarkan kepada siapa saja, utamanya anak-anak, dengan cara cara yang menyenangkan

            Wakil Bupati Gresik Moh. Qosim dalam pengantar buku ini mengatakan, pada anak-anak secara fisik dan psikologi belum siap menerima sesuatu yang berat. Di sinilah letak kearifan para leluhur kita yang telah menciptakan berbagai permainan (dolanan) yang di dalamnya penuh dengan pesan moral serta nilai edukasi yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter seseorang. Sehingga pada gilirannya tumbuh menjadi dewasa yang memiliki kepribadian yang baik

Di samping itu, kehadiran buku ini menunjukkan sebuah bukti bahwa geliat literasi di kalangan pelajar, khususnya  SMAN 1  Gresik sangat membanggakan. Tentu ini akan menjadi inspirasi siswa lain mengembangkan gerakan literasi di sekolahnya. Melalui kegiatan ini mereka tidak hanya bernostalgia, namun sekaligus menggali local wisdom

Semakin banyak pelajar yang mengeksplorasi kearifan lokal daerahnya maka akan semakin banyak generasi yang memahami dengan benar sejarah dan budayanya. Ini sangat penting karena pemahaman yang baik atas sejarah dan budaya akan memberikan penyadaran manusia tentang konsep diri, penghargaan nilai-nilai lokal serta semangat kebangsaan.

Apabila gerakan literasi pada setiap sekolah berjalan dengan baik, semua siswanya memiliki kesadaran sajarah dan budaya, maka ke depan akan semakin banyak pribadi pribadi yang visioner. Tidak picik terhadap kenyataan, namun mampu menghadapi kenyataan hidup di tengah dunia global tanpa tercerabut dari akar budayanya.

Kehadiran buku ini juga dapat dijadikan acuan bagi pengembangan penerbitan berikutnya.  Tidak cukup hanya mengeksplorasi kearifan kearifan lokal dari dolanan saja, namun bisa menggalinya dari kuliner khas suatu daerah atau yang lainnya. Semoga !

Di baca :2