Prihatin karena Teman Suka Jajan di Luar

Posted by Administrator Budaya

GRESIK – Tiga siswa duduk santai di pojok halaman sekolah. Semilir angin sepoi-sepoi menemani santap siang mereka saat jam istirahat. Tak lama berselang, seorang siswa membuka wadah berisi nasi dan lauk-pauk.

’’Saya bawa bekal langsung dari rumah. Ibu yang masak,” ujar seorang siswa yang diperankan Pradhita Adhip Satmata.

Dua siswa lainnya menyantap kue yang dibeli di luar sekolah. Kue dibungkus kertas bekas koran. Mereka adalah siswa SMAN 1 (Smansa) Gresik.

Di sela-sela santap siang, Pradhita memberikan saran kepada temannya agar membawa bekal dari rumah. ’’Bawa bekal dari rumah lebih higienis. Lebih terjamin kesehatannya,” ujarnya dalam percakapan tersebut.

Namun, kedua rekannya, Vandi Romadhoni dan Fadhil Dwi, sama-sama membantah. Alasannya, makanan yang dijajakan di luar sekolah lebih enak dan pilihannya beragam.

Santap siang habis, ketiganya pun beranjak. Nah, insiden terjadi saat hendak masuk ruang kelas untuk belajar. Perut Vandi tibatiba sakit. Dia langsung dilarikan ke ruang UKS milik SMAN 1 Gresik. Di sana, dia diperiksa. Ternyata, perutnya sakit akibat makanan yang baru saja disantapnya. ’’Makanya, kalau mau sehat, siapkan bekal dari rumah,” ujar Pradhita.

Percakapan itu menutup dialog dalam film pendek tersebut. Film indie berjudul Sekolahku Sehat dan Bergizi itu berhasil meraih runner-up di ajang Youth Creation pada 8 Agustus lalu. Lomba film dokumenter tingkat SMA sederajat se-Indonesia tersebut diselenggarakan Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) bidang makanan dan kesehatan. ’’Kami bangga. Karena bisa mengalahkan lebih dari 70 tim dari SMA se-Indonesia,” tutur Dhea Ranindyasalah, anggota tim.

Menurut dia, pesan yang ingin disampaikan dalam film pendek itu sangat jelas. Yaitu, menerapkan pola hidup sehat dengan tidak membiasakan diri jajan di luar sekolah. Sebab, kadar kesehatan jajan atau makanan di luar sekolah sangat diragukan. Rentan dengan 6P. Yaitu, pemanis, pewarna, penyedap, pengawet, pengenyal, dan pemutih. ’’Tingkat kehigienisan makanan seperti ini sangat diragukan. Berpengaruh ke kesehatan,” tutur siswi kelas XII IPS tersebut.

Mereka juga tidak menyangka dengan pengaruh film pendek hasil ciptaannya. Setelah menonton, banyak siswa yang tidak mau lagi makan makanan di luar sekolah. ’’Mereka kalau tidak bawa bekal dari rumah, lebih baik beli di kantin sekolah. Lebih sehat,” ujarnya.

Vandi Romadhoni menceritakan, ide penciptaan film tersebut berawal dari pengalaman keseharian. Dirinya cukup prihatin dengan kebiasaan buruk rekan sesama siswa. Bahwa, siswa Smansa hobi jajan di luar sekolah. ’’Padahal jajan yang dijual di luar diragukan kesehatannya,” tuturnya.

Tidak sedikit, kata dia, rekan sesama siswa yang suka beli makanan di luar sakit-sakitan. Mulai mencret atau sakit perut ketika jam pelajaran sedang berlangsung. ’’Intinya kami menyorot kebiasaan buruk temanteman. Pesannya ayo kita sehat bersama,” tambah Vandi. (mar/c6/dio)

Di baca :2