Menulislah Seperti Kartini

Posted by Administrator Pendidikan

Cuaca cerah kala Sabtu (22/04) suasana lapangan SMAN 1 Gresik tampak tidak seperti biasanya. Siswa dan guru tidak menggunakan jersey pada hari itu. Mereka mengenakan busana Nusantara dalam rangka memeringati hari Kartini. Yang perempuan begitu tampak feminin dan yang laki-laki tampak begitu maskulin Seluruh siswa mengenakan busana nusantara mengikuti apel dengan tertib dan hikmat. Apel itu pun juga terasa berbeda. Sebab semua petugas upacaranya semuanya kaum Hawa. Bertindak sebagai Pembina Apel adalah Darwati. Setelah pembawa acara mengatakan Pembina apel memasuki lapangan. Perempuan paro baya itu perlahan bergerak menuju podium. Bu Dar, sapaan akrabnya, mengenakan jarik kawung warna coklat dengan kombinasi kebaya warna merah bermotif bunga. Sisa sisa kecantikannya masih kentara dalam balutan kerudung sutera warna kuning. Dalam sambutannya Ia menerangkan sepak terjang Kartini dalam membebaskan kaum perempuan dari belenggu tembok tradisi yang kurang berpihak pada nasib perempuan. “ Perempuan kala itu hanya dianggap sebagai konco wingking. Aktivitasnya terbatas di tiga tempat, yakni dapur, sumur, dan kasur. Yang dilakukan juga terbatas pada kegiatan masak, macak, dan manak. Perempuan waktu itu dipingit. Tidak boleh keluar rumah. Serta tidak jarag perempuan harus dinikahkan dengan laki-laki yang belum dikenal sebelumnya.,” papar Darwati Melihat kenyataan itu, lanjut Darwati, Kartini trenyuh. Putri Bupati Jepara itu kemudian melakukan korespondensi dengan sahabat-sahabatnya. Salah satu sahabat Karti adalah Abendanon. Kita harus berterima kasih kepada kartini. Atas perjuangannya, perempuan sekarang saat ini bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan kaum Adam. “Perempuan menjadi pilar kekuatan. Kalau ada laki laki yang sukses. Baik sukses karir maupun sukses dalam berusaha, pasti di belakangnya ada perempuan yang hebat,” sambungnya Sementara itu kepala SMAN 1 Gresik Suswanto mengajak seluruh siswa untuk meneladani perjuangan Kartini. “Banyak tokoh perempuan di Indonesia ini yang tidak kalah heroiknya dengan Kartini. Tetapi Kartini yang paling dikenal dan dikenang. Setiap hari kelahirannya diperingati. Sebab Kartini memiliki daya pembeda yaitu Menulis. Maka menulislah seperti Kartini,” pintanya Tidak hanya itu, mantan instruktur fitness itu mengaku senang melihat keceriaan yang terpendar dari wajah-wajah perempuan berkebaya. “Alhamdulillah, Peringatan Hari Kartini dari tahun ke tahun semakin baik. Ini harus dibudayakan. Ke depannya hal seperti ini tidak hanya dikenakan pada saat hari Kartini saja. Bisa dikenakan saat memeringati Hari Besar Nasional lainnya,” tegasnya (ono)

Di baca :2